Cinta tidak begitu

•February 2, 2015 • Leave a Comment

Kupahami dengan hatiku.
Kuterima dengan pasrahku.
Bahwa sekalipun terasa indah,
Itu belum tentu nyata.

Mungkin saja itu sekedar gurauan, atau..
bahkan hanya sebuah peran..
Sebab cinta tidak seperti itu..
Karena cinta memang tidak mungkin begitu..

Tengoklah..
Atau sebaiknya pergilah..
Berlalulah dari pikiranku ini..
Saat segenap jiwa raga yang merana ini..
Tak sedikitpun mampu membuka mata hatimu..
Tak sedikitpun bergeming..
Tak jua sesaat tergerak..

Dan kamu mengisyaratkan maksud..
Bahwa semudah itu bagimu..
Sesederhana itu sikapmu..
Seakan cerita kita tidak pernah ada..
Dan agar aku bertingkah wajar tanpa cela..
Berpura-pura menerima bahwa ini cukup manis untuk kutelan..

Mampukah aku..???
Tidak..!!!
Kuatkah aku..???
Tidak…!!!
Tapi aku berani berjanji..
Untuk cinta yang aku punya..
Yang dengannya aku bangga..
Telah persembahkan segala yang terbaik dariku..
Yang mungkin tak secuilpun berharga bagimu..
Akan sekuat mungkin melenyapkan diriku dari keterlibatan perasaanku padamu

Karena aku mencari cinta..
Dan ini bukan cinta..
Karena sesamar apapun kamu menutupinya,
tapi cinta adalah hal terjelas yang pernah kumengerti..
Tidak seperti itu..
Karena cinta memang tidak mungkin begitu.

Kini aku yang harus mengerti..
Karena kamu tak mungkin lagi..
Laksana mimpi indah yang ingin kuulangi..
Dari tidurku yang terjaga karena pagi..

Aku harus percaya..
Kamu harus percaya…
Kitalah yang tidak berdaya…
Memaksakan cinta untuk datang..
Untuk aku yang tidak layak..
Dari kamu yang tidak tergapai…

Fine (03-Feb-2015 | 1:27am)

Advertisements

Nyanyian Hujan

•February 1, 2015 • Leave a Comment

Tiada bertabuh, tiada berdawai..
Turun meluruh bersama alam..
Memagut hati dalam ciuman kenangan..,
dalam dekapan hangat para pecinta..

Aku adalah penciptamu, sekaligus pengagummu..
Pencipta yang senantiasa membalutmu dalam keindahan..,
di dalam imajiku yang liar..,
di dalam angan yang tak satupun mereka mengetahuinya..,
kecuali aku dan hujan sore ini…

#iseng-iseng nulis šŸ™‚

KAKIKUKAKU

•March 18, 2009 • Leave a Comment

sandbeach

Aku tau..
Aku mengerti..
Aku ingin..

Ketika engkau berada dipantai itu..
Perlahan kau pijakkan kaki indahmu diatas gundukan pasir putih itu..
Sesekali kau mainkan kakimu diatasnya..
Sesekali kau berusaha pijakkan lebih dalam lagi agar pasir itu melingkupi kakimu yang halus..
Dan kau suka,.. ketika pasir itu menyambut kakimu..
Menaburinya dengan penuh hati-hati..
Namun aku tidak begituĀ  paham akan maksud kakimu..
Yang aku tau bahwa diseberang sana, laut ini mulai beriak pelan…
Pelan seiring semilir angin pantainya yang sejuk..
Dan kapanpun bisa menjadi gelombang yang dashyat..
Yang bisa saja menerpamu, bahkanĀ  menyeretmu ke dalamnya laut yang biru pekat..
Aku tak ingin iniĀ  terjadi atas engkau dan pasir itu.
Aku lebih suka mereka tetap ditempatnya..
Kakimu dan pasir itu..
Dan gundukan pasir itu …
Adalah jejak yang sengaja dibuat oleh orang-orangĀ  ketika mereka bermain-main dipantai itu tadi..
Setiap saat mereka akan kembali kesana mencari gundukan pasir tadi.

Setiap pantai itu pasti ada pasirnya..
Engkau hanya perlu tau pantai yang tepat untukmu..
Dan sesungguhnya.. setiap pantai itu menginginkan dikunjungi olehmu…
Dan engkau tinggal memilihnya..
Aku percaya..Ā  akan ada satu pantai yang indah untukmu..
Dimana semilirnya angin akan senantiasa menyejukkanmu.. saat terik sekalipun
Akan ada satu pantai yang lautnya teduh dengan riak-riaknya yang lembut..
Dan nyaman untukmu berenang.. dan senantiasa menjagamu.
Kau hanya perlu mencarinya..Ā  tapi tidak disini..

walkbeach
…..

2.500 Bahasa di Dunia Terancam Punah

•February 23, 2009 • Leave a Comment

Anda tahu, dunia telah kehilangan bahasa Ubykh di Turki dan tahun lalu bahasa Eyak yang dipakai di Alaska juga juga punah, setelah wanita yang bisa menggunakannya Marie Smith Jones meninggal dunia. ADVERTISEMENT Seperti dikutip AFP, Jumat (20/2/2009), dari 6.900 bahasa di dunia, 2.500 diantaranya berada dalam bahaya kepunahan. Hal ini seperti tercantum dalam data badan dunia PBB Unesco. Jumlah ini semakin meningkat, dari data 2001 lalu di mana tercatat ada 900 bahasa yang terancam hilang. Dan berdasarkan data terbaru, saat ini ada 199 bahasa di dunia yang dikuasai kurang dari selusin orang, antara lain bahasa Karaim yang hanya digunakan oleh 6 orang di Ukraina, dan bahasa Wichita hanya digunakan 10 orang di negara bagian AS, Oklahoma. Nah, mungkin ini yang cukup mengkhawatirkan, bahasa Lengilu hanya digunakan oleh 4 orang aja di Indonesia. Harapan sedikit ada untuk 178 bahasa yang lain, mereka digunakan oleh 10 sampai 150 orang. Memang hampir 200 bahasa, mengalami kepunahan setelah 3 generasi, misalnya saja bahasa Ubykh yang punah pada 1992 ketika orang yang menguasainya Tefvic Esenc meninggal, lalu bahasa Aasax di Tanzania pada 1976. Berdasarkan catatan, India berada di peringkat atas jumlah total bahasa yang terancam punah di negeri itu ada 196 bahasa yang masuk daftar, diikuti Amerika Serikat 192, dan Indonesia di peringkat ketiga dengan 147.

dikutip dari detik.com>yahoo.co.id

I cried for my brother six times

•January 6, 2009 • Leave a Comment

tear

Yang tiada pernah kering meskipun engkau coba mengurasnya. Tidak pernah selesai untuk kamu entaskan. selalu bertambah ketika engkau mulai menguranginya. Itulah ketulusan hati, keikhlasan yang tak pernah dendam, dan kejujuran yang tak pernah terkontaminasi.

Betapa Tuhan telah menciptakannya dengan KeMaha-Sempurnaannya, agar kita maknai segala penciptaan ini, agar kita syukuri segala nikmat ini, bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia dari ciptaanya yang lain, bahwa kita dianugrahi akal dan rasa. Agar kita senantiasa saling mengasihi, menyayangi dan peduli.

Betapa kebahagian terbesar adalah disaat kita mampu membahagiakan orang lain dengan segenap kasih sayang. Betapa kebahagiaan terbesar adalah ketika kita mampu mendoakan dan turut bahagia atas kebahagian orang lain dengan ikhlas.

Semoga sekalian kita senantiasa beroleh bimbingan kasih dan sayang di sisi Allah SWT. Dan semoga Allah SWT senantiasa mencukupkan nikmat kebahagiaan kita, baik dunia maupun akhirat. Cerita dibawah ini kami kutip dari taimeng.com, sekedar untuk mengingatkan saya dan Insya Allah Andapun dapat mengambil hikmah dari cerita ini. Selamat membaca >>

airkeruh site owner

Diterjemahkan dari : “I cried for my brother six times”

—————————————–
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil.
Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit.
Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku.
Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya.

Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan,

“Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”

Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata,

“Ayah, aku yang melakukannya!”

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi,

“Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata,

“Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11 tahun. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi.

Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut,

“Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…”

Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, lalu berkata,

“Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata,

“Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.”

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya.

“Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua
sampai selesai!”

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata,

“Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.”

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku:

“Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20 tahun. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan,

“Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya,

“Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?”

Dia menjawab dan tersenyum,

“Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku,

“Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan,

“Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23 tahun.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.

“Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!”

Tetapi katanya, sambil tersenyum,

“Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit salep pada lukanya dan mebalut lukanya.

“Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.

“Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…”

Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan,

“Kak, jagalah mertuamu aja disana. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu,

“Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya.

“Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah:

“Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku! seharusnya…”

lalu, adik ku langsung memotong perkataan ku,

“Mengapa membicarakan masa lalu? aku bahagia dg hidup ku yg seperti ini kak, segala yg aku dapat selama ini termasuk perhatian, kasih sayang, ibu, ayah jg kakak…bagi ku sudah lebih dari cukup?”

Adikku menggenggam tanganku dan tersenyum. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya,

“Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?”

Tanpa bahkan berpikir ia menjawab,

“Kakakku…”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat ku ingat.

“Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku,

“Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.”

Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Cinta, Apakah hakekatnya??

•December 23, 2008 • 1 Comment

love_heart

Jika dia adalah Rahmat, seharusnya membawa keindahan bagi semua. Namun sebenarnya memang itulah hakekatnya, Dan sebagian kita telah banyak memanipulasinya. Kita telah banyak melakukan propaganda tentangnya. Semua karena egoisme kita yang begitu besar. Egoisme yang sering membunuh hak orang lain. Egoisme yang kemudian meluluhlantakan kepedulian kita, bahkan terhadap orang yang kepadanya kita mengaku cinta. Jika demikian, sebenarnya apa yang kita harapkan sebagai reaksi dari mereka yang Anda cintai?. Apakah cinta yang sama dengan yang Anda miliki terhadapnya? Jika itu yang Anda harapkan maka sesungguhnya Anda SALAH BESAR, Anda justru menciptakan jurang api yang demikian besar yang semakin membuat dia enggan menghadapi Anda. Jika Anda atasan mungkin pegawai Anda akan lebih terpaksa untuk anda. Ini semata-mata karena hubungan profesionalitas selama tekanan masih dalam batas kewajaran. Tapi bukan tidak mungkin pegawai Anda justru berontak dan dengan tidak ragu untuk berhenti. Namun jika Anda sahabat, maka sahabat Anda akan pergi menjauhi Anda. Jangankan bicara, merasakan kehadiran Anda saja perasaannya akan gerah, secepatnya ingin berlalu dari tempat itu. Dan jika Anda Orang tua, maka anak Anda semakin menjadi dengan kebandelannya.

FAKTA, KEBIJAKAN selalu membawa KEBAJIKAN.

Anda harus percaya ini. Evaluasi diri, kontrol emosi dan kepekaan terhadap lingkungan dan objek menjadi faktor utama penentu kebijakan positif. Jika Anda seorang yang bijak, seharusnya Anda mampu mempelajari alam ini. Pelajarilah dengan cinta, bukan dengan keserakahan dan egoisme yang berlebihan. Kita harus mampu menjadi orang lain. Ingatlah!! tidak ada yang pernah benar-benar baik ketika itu dirajut diatas anarkisme dan rasa ketertindasan. Kita harus bijaksana dalam me-manage perasaan dan pikiran. Tidak ada pemaksaan baik nyata maupun tersamar. Karena sesamar apapun Anda memaksakan kemauan, objeknya adalah hati dimana perasaan ini berada. Dan perasaan yang tulus itu dapat membedakan mana intrik dan mana ketulusan Anda.

Lalu mengapa kita menyebutnya cinta jika itu tidak berlaku sama bagi yang lainnya? Mengapa Anda menyebutnya cinta jika objek yang anda tuju justru tidak bahagia karenanya? Lalu ketika Anda tega hendak merebut kebahagiaan itu apakah masih pantas anda meng-atasnamakan Cinta? Jika demikian cinta apa yang Anda tawarkan ini? Betapa Anda telah menganiaya diri sendiri dan orang lain.
Lalu ketika Anda menganiaya diri sendiri, pantaskah Anda berkata bahwa Anda sayang kepadanya? Bagaimana mungkin? Untuk diri sendiri saja Anda tidak mampu menyayangi, apalagi hendak menyayangi orang lain!!

Jika ada yang mengatakan cinta itu buta, Sayalah orang yang menantang itu. Cinta itu Rahmat. Dengan cintalah justru kita bisa memahami segala sesuatu, memberi penerangan dan kedamaian bagi semua, bukan satu atau sebagian. Tapi keseluruhan..

Anda perlu mengkaji ini lebih lanjut.

respect-61

  1. Anda Cinta Orang lain. Betul?
  2. Cinta anda kepada orang lain pasti karena Anda sayang padanya. Betul?
  3. Karena rasa sayang Anda itu, Andapun harus mampu membuatnya bahagia. Betul?
  4. Anda mengingikan sesuatu dari orang yang Anda cintai. Betul?
  5. Keinginan itu adalah untuk membuat Anda bahagia. Betul?
  6. Ketika keinginan itu harus merenggut kebahagian orang yang Anda cintai, apakah Anda tega?
  7. Ketika Anda tega melakukan itu, apakah Anda sadar bahwa Anda telah bertentangan dengan pernyataan nomor 2 diatas?
  8. Ketika Anda tidak perduli dengan pernyataan nomor 7, sadarkah Anda telah menganiaya diri Anda dan orang yang Anda cintai itu?
  9. Lalu ketika penganiayaan Anda itu berlangsung atas dirinya bukankah ini telah melanggar pernyataan nomor 1 di atas?
  10. Simpulkan perasaan Anda… Benarkah Anda telah benar-benar menjadi pe-CINTA??, atau bahkan menjadi penjahat atas cinta itu sendiri?

Polisi.. butuhkah kita?

•October 23, 2008 • 21 Comments

polantas

POLANTAS, sebaiknya diganti POLANTAH = Polisi Lalu Lintah. Adalah polisi yang berkepribadian Lintah, Mengisap darah. Tapi sehaus-hausnya lintah tidak akan menghisap darah saudaranya sesama lintah. What??!! artinya untuk disamakan dengan Lintahpun Polantas masih lebih bermartabat si Lintah. masya Allah..

Setiap kali melihat mereka dijalan raya. menyetop kenderaan kita sambil berlagak bak seorang yang sopan dan profesional, mengangkat tangan sebagai tanda penghormatan bagi calon mangsa. Dengan trik ini kita diajak kompromi dengan mindset yang mereka punya, bahwa kita cukup mudah untuk diperbodoh.
Sempat saya berpikir “semiskin itukah polisi kita??” miskin uang juga hati. gak peduli petani pun dimangsanya. apakah benar gaji mereka dibawah minimum?? ternyata tidak. untuk pangkat terendah lulusan SMA saja mereka digaji berkisar 2juta/bulan. bandingkan dengan para mangsa mereka, petani yang seharian bekerja disawah yang mungkin bukan sawahnya sendiri, bekerja diteriknya matahari bermandi lumpur untuk menghidupi keluarganya yang mungkin anaknya banyak, harus menunggu hasil panennya setelah 3 bulan itupun masih diliputi cemas akankah panennya sukses atau setidaknya tidak diserang hama.
polisi-gendut Polisi Si Raja Tega.
Inikah Polisi yang seharusnya menjadi pengayom masyarakat? Inikah Polisi yang seharusnya menjaga Hukum tetap tegak adanya?. Ternyata itu isapan jempol belaka, Polisi menjadi inversi dari semua misi yang seharusnya mereka jalankan. Merekalah yang menjual hukum, mereka jugalah yang menganiaya rakyat. Merekalah yang memberimakan perutnya sendiri dengan keringat saudaranya. Korupsi yang terang2an dan pembelokan hukum sekena hatinya sendiri.
Berubahlah Polisi, Sadarlah kalian.. atau kalian akan selalu makan sumpah serapah kami di jalan raya, dimanapun kalian berhasil menjadikan kami mangsamu yang empuk karena tipu dayamu.