Selamat Datang

•October 23, 2008 • 1 Comment

Akal dan rasa, anugerah Tuhan terbesar bagi manusia. Manusia lemah jika tanpa salah satunya. Jadilah bijak karenanya, dan bukan sebaliknya. Itulah Alasannya Tuhan menganugerahi kita keduanya, agar kita berbeda dengan makhluk ciptaannya yang lain, walau realitanya manusia kehilangan salah satunya bahkan kedua-duanya.

Jujur menilai, adil menentukan. Jadikan iman menjadi motornya.

Mari Om silahkan masuk…

Advertisements

Kebutuhan, apa yang menjadi kebutuhanmu. (Need vs Wish)

•October 21, 2008 • Leave a Comment

KEBUTUHAN.. VS. KEINGINAN
Tanpa kita sadari banyak hal yang telah kita putuskan, kita perbuat, kita jalani mungkin belum mengarah kepada apa yang sebenarnya kita butuhkan. Sejatinya manusia belum akan 100% dapat memilah-milah keinginan-keinginan itu sepanjang manusia masih terpasung oleh ambisi dan egoisme diri. Pikiran-pikiran itu masih didominasi oleh apa yang menjadi keinginan kita. Faktanya, ketika keinginan itu kita capai justru sebagian besar dari kita belum juga puas atas hasilnya, bahwa ambisi itu masih saja terus mengajak kita meningkatan imajinasi kita kepada visi yang lain, yang terus bertambah dan pasti tak pernah terhenti.
Pernah suatu ketika teman saya dengan ringan mengatakan sesuatu hal yang mungkin bagi kita bukanlah topik yang harus dibahas. Kebetulan saat itu kami sedang ngobrol ringan ditepian jalan gang depan tempat kami tinggal. Apa yang diungkapkan teman saya, dia bilang “alangkah senangnya ayam itu”. Ini sebuah ungkapan yang aneh. Bukankah setiap orang menginginkan sesuatu yang lebih baik dari apa yang dimilikinya. Keinginan untuk mencapai status yang lebih baik adalah fitrah manusia pada umumnya. Ada petani yang bercita-cita ingin menjadi usahawan terkenal, ada anak SD bercita-cita menjadi profesor, anak muda ingin menjadi artis terkenal, semua ini kita anggap sebagai visi yang positif baik bagi lingkungannya juga bagi si “dreamer” itu sendiri. Betapa tidak, karena keinginan itu menuju kepada status yang lebih baik dari sebelumnya baik bagi lingkungan maupun dreamer-nya. Namun berbeda kasusnya dengan seorang pencopet yang bercita-cita menjadi pembobol bank profesional. Kita akan beramai-ramai menuding bahwa ini adalah visi yang negatif, kenapa?. Sebab kita akan terkena dampak yang buruk jika ini sampai terealisir. Namun bagaimana bagi dreamer-nya, apakah ini juga merupakan visi yang negatif baginya?. Saya rasa kita sependapat bahwa ini merupakan visi positif baginya, sebab kejahatan baginya adalah kebaikan. Jadi ketika dia menginginkan kejahatan yang lebih besar tentu itu merupakan hal yang positif baginya. Betul tidak?
Baiklah saya tau Anda mulai bosan dengan topik ini, jadi saya tidak akan berputar-putar terus pada persoalan positif dan negatif tadi (lha baru sadar.. ini bukan pelajaran fisika Om  ..). Oke terima kasih Anda masih mau melanjutkan membaca tulisan ini. Lalu apa hubungannya dengan ayam?? Apakah visi teman saya tadi, positifkah atau negatif? Jika itu positif, bagi siapa? Negatif juga bagi siapa? Atau justru bukan kedua-duanya?. Silahkan Anda analisa lebih lanjut, namun saya akan meluruskan topik ini agar tidak menyimpang dari judulnya.
“alangkah senangnya ayam itu” dia hidup tanpa beban, tapi bukan berarti semaunya. Anda mengerti maksud saya kan?? Ok, saya yakin anda pasti mengerti. Ayam dapat hidup tanpa beban walaupun bukan semaunya dia. Ayam hidup tidak dibebani dengan persoalan manusia. Dia makan seadanya, hidupnya mengalir terus tanpa persoalan yang membebaninya sampai darahnya mengalir dari lehernya (disembelih Om.. alias ko’id ). Inilah yang melandasi celetukan teman saya tadi itu. Mungkin juga karena hidup kami sebagai anak kos.., bayangkan Anda hidup ditengah kota. Segala pemandangan glamour ibukota ada disini. Praktis pesona itu yang menghinggapi dia dan justru menjatuhkannya dalam pesimisme hidup tingkat tinggi. Disisi lain saya bersyukur sebab walaupun demikian tidak lantas menjatuhkannya dalam visi negatif/positif meskipun pada akhirnya dia menjadi agak aneh. Bahkan lebih parah lagi, lingkungan menganggapnya orang tidak waras, karena mungkin sayalah satu2nya orang yang masih mampu berkommunikasi baik dengannya (waduh jangan-jangan saya juga sudah gila yah?? ) insya Allah saya masih waras kok. Alhamdulillah.. Okehh.. kembali ke laptop yahh..
Mengapa hal ini terjadi pada teman saya?, kita harus kembali pada konsep pemikiran praktis. Praktis bukan berarti mengenyampingkan kepentingan orang lain (egoisme yang merugikan lingkungan). Bukan pula membunuh semua harapan yang kita punya seperti apa yang terjadi pada teman saya tadi. Manajemen kebutuhan memegang peran penting disini. Sumberdaya, waktu dan kemampuan adalah prajurit kita dalam memperjuangkan hidup ini, dimana akal menjadi komandanya dan rasa menjadi penasehatnya atau sebaliknya rasa adalah komandan dan akal adalah penasehatnya tergantung pihak mana yang menjadi sensor pertama kalinya. Lalu untuk negara mana kita berjuang? Kita berperang untuk negara “kebahagian sejati” yang wilayahnya terdiri atas 2 negara bagian yaitu Dunia dan Akhirat. Akal tidak bisa berjalan sendiri, jika itu terjadi maka egoisme telah menghinggapi kita, arogansi dan kejahatan menjadi pengikutnya. Demikian pula rasa jangan diperkenankan jalan tanpa pertimbangan logik dari akal kita. Mereka harus berjalan berdampingan sebagaimana kita memperlakukan istri dan suami kita.
Manajemen penting bagi penentuan prioritas, pengambilan keputusan dan pemanfaatan sumber daya yang kita miliki. Prioritas akan menuntun kita kepada klasifikasi mana yang kebutuhan dan mana keinginan. Jelas keduanya berbeda dan salah satu tidak mutlak menjadi bagian dari sebagian yang lainnya, tapi bisa jadi bersamaan. Ini pertama kali yang harus kita identifikasi. Indentifikasi yang jujur akan mampu menyaring kebutuhan mana yang harus kita penuhi, dan bukan keinginan yang mubajir.
Bagaimana kita dapat memilah-milah kebutuhan dan keinginan?. Kita harus mampu mengenali karakteristik keduanya. Sebuah kebutuhan mempunyai karekteristik yang mutlak harus ada tidak bisa ditawar-tawar. Sedangkan keinginan adalah pilihan. Jika kesejahteraan yang akan kita jadikan ukuran maka pemenuhan kebutuhanlah yang menjadi tolak ukur kesejahteraan itu. Dengan kata lain kesejahteraan tercapai jika semua kebutuhan sudah terpenuhi. Keinginan bukan menjadi penentu kesejahteraan. Kesejahteraan tidak akan berkurang jika keinginan tidak terpenuhi, dia hanya melengkapi kepuasan. Contoh lain Kebutuhan kita adalah makan, minum, tidur, sex dll. Sedangkan keinginan berada pada level berikutnya. Kita butuh makan untuk menghilangkan lapar, bukan untuk membuat kita kenyang. Kenyang itulah keinginan kita. Asal kita makan kita tidak lagi lapar. Kita mau makan nasi, makan bakso, makan hati (eh salah ya.. ngg maksud saya makan hati ayam) itu adalah keinginan kita. Keinginan untuk memenuhi kepuasan kita.
Disnilah peran akal sangat dibutuhkan. Lalu bagaimana peran rasa mendampingi akal saat itu?. Rasa yang adil seharusnya mampu mempertimbangkan kepentingan dan hak asasi orang lain. Rasa yang adil hendaknya mampu mengontrol ambisi jangan sampai merugikan orang lain. Ibarat sebuah negara kebutuhan orang lain layaknya negara tetangga yang harus kita hormati keberadaanya. Bukankah kemerdekaan adalah hak segala bangsa? (hehe.. UUD 45 kali Om..) Jadi, hormatilah kepentingan orang lain sebagaimana anda ingin dihormati orang lain. KEPENTINGAN ORANG LAIN HENDAKNYA MENJADI PRIORITAS UTAMA UNTUK TIDAK KITA LANGGAR. Keselarasan Akal dan Rasa senantiasa melahirkan pribadi yang bijakasana.
Akhirnya, saya mau menyarankan Jujur dan Adil-lah pada nurani kita. Bersikap jeli dalam memilah mana kebutuhan dan mana kepentingan Anda. Gunakanlah akal dan rasa secara berimbang, pasti anda tidak akan merugi. Anda tidak akan rugi karenanya. Percayalah, justru Anda akan memiliki pribadi yang bijaksana, insya Allah. Lebih akhir lagi (hehe.) saya sangat terbuka atas kritikan anda, silahkan tinggalkan comment Anda disini. Terima kasih.